Beranda > Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi > Penyesuaian Dan Kelonggaran

Penyesuaian Dan Kelonggaran

Penyesuaian

Penyesuaian dilakukan untuk menormalkan ketidakwajaran yang terjadi selama pekerjaan berlangsung. Ketidakwajaran yang dapat terjadi misalnya bekerja tanpa kesungguhan, sangat cepat seolah-olah mengejar waktu, atau karena menjumpai kesulitan-kesulitan dalam bekerja.

Penyesuaian dilakukan dengan mengalikan waktu siklus rata-rata atau waktu elemen rata-rata dengan suatu harga p yang disebut faktor penyesuaian. Bila operator bekerja di atas normal (terlalu sepat), maka harga p > 1. Bila operator dipandang bekerja di bawah normal, maka harga p < 1. Bila operator bekerja dengan wajar maka harga p = 1 (Sritomo, 2006).

Terdapat beberapa cara untuk menentukan penyesuaian. Pertama yaitu cara persentasi, dimana faktor penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukur melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran. Jadi sesuai dengan pengukuran pengamat mementukan harga p yang menurutnya akan menghasilkan waktu normal bila harga ini dikalikan dengan waktu siklus. Cara ini merupakan cara yang paling sederhana maka segera pula terlihat terdapat kekurangan ketelitian sebagai akibat dari kasarnya cara penelitian. Maka dikembangkan cara lain yang lebih objektif seperti cara humard dimana memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas performance kerja dimana setiap kelas mempunyai nilai sendiri-sendiri. Kelas-kelas tersebut seperti menurut kelas super fast+, fast, fast-, exelent dan seterusnya.

Berbeda dengan cara shumard, cara Weshinghouse mengarahkan penilaian pada empat faktor yang dianggap menentukan kewajaran atau tidak dalam bekerja seperti keterampilan, usaha, kondisi kerja dan konsistensi. Setiap faktor terbagi ke dalam kelas-kelas dengan nilainya masing-masing.

Cara terakhir yaitu cara objektif yaitu dengan memperhatikan dua faktor kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan yang dipandang secara bersama dapat menentukan berapa harga p untuk mendapatkan waktu normal. Di sini pengukur melakukan penilaian keseluruhan yaitu menilai semua faktor yang dianggap berpengaruh sekaligus (Sutalaksana, 1979).

Kelonggaran

Kelonggaran diberikan untuk tiga hal, yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatigue dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja dan yang selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun dihitung. Karenanya sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal, kelonggaran perlu ditambahkan (Sutalaksana, 1979).

1.   Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi.

Yang termasuk dalam kebutuhan pribadi di sini adalah hal-hal seperti minum sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, kekamar kecil, bercakap-cakap dengan teman sekerja untuk menghilangkan ketegangan ataupun kejemuan dalam kerja.

2.   Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatigue.

Rasa fatigue tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun kualitas.

3.   Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan.

Beberapa contoh yang termasuk ke dalam hambatan tak terhindarkan adalah:

  • Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas.
  • Melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin.
  • Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.
  • Memasang peralatan potong.
  • Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang.
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: